Forum Privilegiatum

Oleh: Tirto Adhi Soerjo, Diterbitkan Medan Prijaji No 3, Sabtu, 22 Januari 1910, Tahun ke IV. Pada memberi forum privilegiatum pada officier-officier (Petugas –ed) bangsa asing anggota-angoota Gewestelijk (Daerah –ed) dan Gemeente (Kotamadya –ed) Raden, dan Wees dan Boedel Kamer, maka daulat Gouvernement (Pemerintah –ed) sudah berbuat satu hal yang tidak adil untuk priyayi Bumiputera … Lanjutkan membaca Forum Privilegiatum

Iklan

Priangan

Memasuki dekade ketiga abad XVIII kerajaan-kerajaan silih berganti menjadi penguasa di tanah makmur, tanah Priangan. Mereka berlomba-lomba adu kuat untuk menguasai yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan belantara. Perjanjian-perjanjian dibuat sesama kerajaan lokal. Mataram, menjadi kerajaan terdepan dalam urusan ini. Tak keliru memang ketika banyak kerajaan yang berhasrat menguasai Priangan. Sekali pun Priangan berciri sebagai … Lanjutkan membaca Priangan

Apa Belum Kapok

Oleh: Tirto Adhi Soerjo, Diterbitkan Medan Prijaji No 3, Sabtu, 22 Januari 1910, Tahun ke IV. Dari surat-surat kabar harian tentu pembaca kita sudah dapat dengan yang Ass. Collecteur (Asistent Collecteur –ed) barang sudah membikin satu akal akan menutup resia atau kesalahannya. Akalnya collecteur ada tipis akal Eropa dan barangkali juga dia ada lihat bioskop … Lanjutkan membaca Apa Belum Kapok

Sekolah Hakim dan Dokter

Oleh: Tirto Adhi Soerjo, Diterbitkan Medan Prijaji No 1, Sabtu, 8 Januari 1910, Tahun ke IV. Dalam surat minggu Jong Indie tuan Zaalberg Hoofd Redactuer (Kepala Redaktur –ed) Bataviaasch Nieuwsblad sudah ajak bangsanya Indo-Eropa beramai-ramai memohon pada Staten Ganeraal (Majelis Tinggi –ed) mudah-mudahan sekolahan-sekolahan dokter dan hakim dibuka buat bangsa Eropa. Sudah lama s. k. … Lanjutkan membaca Sekolah Hakim dan Dokter

Kelana Dwipantara

Kamarnya sesak dengan buku. Hampir di setiap penjuru selalu ada tumpukan buku yang tingginya sedikit di bawah langit-langit kamar. Selain buku, harta kepunyaannya adalah kertas, pena, tikar, dan pakaian secukupnya. Selebihnya tidak. Kehidupannya menjemukan. Sepanjang hari hanya dihabiskan untuk membaca dan menulis. Jangan tanyakan kehidupan sosialnya karena dia sudah kepalang chaos dengan itu. Sebabnya, tiada … Lanjutkan membaca Kelana Dwipantara