Sang Filsuf dan Senjata Kasat Mata

Angin berhembus tak berirama. Dalam derunya terdengar kepakkan burung. Samar, namun cukup untuk membuat simpulan kalau-kalau suara itu ialah suara hasil dari kepakkan burung. Benar saja, tampak di ujung jangkauan mata burung-burung tersebut bergerombol. Mungkin hendak bermigrasi. Dan kini langit sudah menguning keemasan saat dia masih duduk termangu di Kelurahan Rukun Lima, Ende, menghadap samudra, … Lanjutkan membaca Sang Filsuf dan Senjata Kasat Mata

Iklan

Gestok: Malapetaka 1965, Semarang, dan Undip

Malapetaka 1965 adalah suatu peristiwa kelam bagi Indonesia. Peristiwa tersebut memakan korban yang tidak sedikit dan sampai saat ini jumlah korban tewas belum dapat dipastikan.[1] Malapetaka 1965 juga memberikan dampak yang signifikan bagi kedudukan Presiden Soekarno. Pasalnya, Soeharto bersama MPRS dianggap melakukan kudeta merangkak terhadap Presiden Soekarno pasca Gestok.[2] Dalam usaha pengambilan kekuasaan secara paksa … Lanjutkan membaca Gestok: Malapetaka 1965, Semarang, dan Undip

Bacalah, Sebelum Membaca Dilarang (lagi)

Bersama karib, saya bertandang ke rumah seorang dosen yang saat itu sudah memasuki masa pensiun. Usia lanjut tidak membuatnya tampak ringkih. Langkahnya masih gesit. Bicaranya tetap lugas. Semangat masih dijaga. “Di salah satu perpustakaan di Jogja, ada satu benda berbentuk kotak, serupa brankas namun cukup besar, sepertinya terbuat dari besi, ukurannya sekitar 3x3 meter, cukup … Lanjutkan membaca Bacalah, Sebelum Membaca Dilarang (lagi)

Siapa Makan Cabai Dialah yang Kepedesan

Oleh: Tirto Adhi Soerjo, Diterbitkan Medan Prijaji No 10, Sabtu, 12 Maret 1910, Tahun ke IV. Lantaran karangan dalam M. P. (Medan Prijaji –ed) ini yang beralamat “Hm! Bekas H. B. S!” dalam mana ada direncanakan kelakuannya seorang Bupati “di Keresidenan S. yang suka makan smeer pada keangkatan Wedono, maka pembantu s. k. (Surat Kabar … Lanjutkan membaca Siapa Makan Cabai Dialah yang Kepedesan

Multatuli

Oleh: Tirto Adhi Soerjo, Diterbitkan Medan Prijaji No 8, Sabtu, 26 Februari 1910, Tahun ke IV. (Sumber foto: Medan Prijaji No 8, Sabtu, 26 Februari 1910, Tahun ke IV.) Multatuli yang gambarnya sudah terlukis di dalam Medan Prijaji ini ada nama pengarangnya p. t. Ed. Douwes Dekker, almarhum Assistent Resident (Asisten Residen –ed) Lebak. Multatuli ada … Lanjutkan membaca Multatuli

Bumi Aksara

Saya tidak dapat melihat keadaan di luar secara lengkap. Gelap. Sesekali hanya terlihat lampu berwarna putih maupun kuning yang tampak redup terlewat begitu cepat. Stasiun Jatibarang, lebih-lebih Stasiun Pasar Senen sudah jauh di belakang dan sejawat yang terlelap dalam keletihan berada di sebelah kanan saya ketika saya menuliskan apa yang selanjutnya menjadi pintu masuk untuk … Lanjutkan membaca Bumi Aksara