Kehidupan Lain dan Bumi Aksara

Di penghujung petang dia berkata, "Aku sayang sama Aksara, tapi aku gamau sayang sama kamu." Aku hanya diam. Batinku tenang, tiadaku sangka-sangka selama ini ada yang menyayangi Aksara. Biar itu bercanda sekali pun, aku merasa tetap tenang karena ada seorang yang menyayangi Aksara. Aksara yang hanyalah kata-kata tak bermakna mulai memikat seseorang. Aksara memang cerdik; … Lanjutkan membaca Kehidupan Lain dan Bumi Aksara

Ketiadaan: Proses Dialektika Tiada Henti

Saya sedang berada di daerah Ungaran. Sepanjang perjalanan saya temui berbagai banyak hal; mulai truk-truk besar, rumah-rumah tua, dan pekarangan sawah yang sedap dipandang mata. Sebelum saya berada di sini, malam hari bersama seorang kawan, kami sempat sedikit memperbincangkan tentang kematian. Sepintas lalu, saya sempat berkata, “Apakah ada yang menangisiku kelak ketika aku sudah tiada?” … Lanjutkan membaca Ketiadaan: Proses Dialektika Tiada Henti

Teruntuk Seorang Kawan: Arga Yuda

Sewaktu itu masih pukul 23:36 menit tatkala aku menghubunginya. Saat itu, aku ingin betul keluar dari goa tempatku berada. Terlalu membosankan untuk berada terus-menerus di dalam goa. Ku pikir, memanglah baiknya aku sejenak pergi ke luar. Malam terang, gugusan Bintang hingga Bulan sabit terlihat jelas. Dari percakapan singkat melalui telepon genggam kawanku mengiyakan ajakkanku untuk … Lanjutkan membaca Teruntuk Seorang Kawan: Arga Yuda

Serikat Rakyat Sastra yang Mati Suri (Lagi)?

Kegembiraan datang dengan proses. Kepergian datang begitu saja. Memang itu semua adalah hal yang tidak adil. Aku rindu. Biar saja orang banyak berkata aku ini sedang melankolis. Tapi, sungguh aku rindu. Dan apakah kamu pernah merasakan rindu? Jika pernah, pasti kamu tahu bahwasannya rindu itu sungguh tiada enak dirasa. Lebih-lebih jika kerinduan tiada berbalas. Sungguh … Lanjutkan membaca Serikat Rakyat Sastra yang Mati Suri (Lagi)?

Penghormatan Kesekian

"Pengorbanan itu ada." Kahar menghela nafas, "Ya Aksara, aku sepakat denganmu. Pengorbanan itu memang ada. Tapi ya jangan jadikan pengorbanan menjadi mengada-ada." Akhir-akhir ini Yogyakarta melulu dipelukan hujan; mulai hujan yang malu-malu, hujan yang selewat, hingga hujan kesedihan. Yogyakarta memang istimewa sampai-samapi hujan menjadi istimewa di sana. Sewaktu itu langit kemerah-merahan di Yogyakarta tak terlihat … Lanjutkan membaca Penghormatan Kesekian

Simbah

Dalam suasana hening, penerangan yang secukupnya, pemandangan asap rokok yang mengepul-ngepul yang keluar dari mulutnya sendiri, Simbah masih meneruskan jembatan keledainya, "Semua ini adalah Mengada-mengada (bentuk plural: Seiende). Kata-kata yang saya tulis ini juga Mengada, seperti halnya pikiran Anda dan Anda sendiri. Dan apakah Ada (Sein)? Jika kita mencakup segala entitas yang ada, apakah kita … Lanjutkan membaca Simbah

Waktu yang Berjalan di Kabud

"Entah kenapa kampus sudah mulai asing. Terlebih teman-teman mulai mempunyai hobi perjalanan baru. My trip my library, katanya." Dia menghisap kembali rokoknya. Di keluarkan asap yang mengepul dan melanjutkan pilunya, "Ah...skripsi membikin kursi-kursi di Kabud kian mengkosong ditinggal penghuninya." Awal semester menjadi awal yang baru; mata kuliah baru, mata kuliah yang lama namun "baru" mengulang, … Lanjutkan membaca Waktu yang Berjalan di Kabud