Simbah

Dalam suasana hening, penerangan yang secukupnya, pemandangan asap rokok yang mengepul-ngepul yang keluar dari mulutnya sendiri, Simbah masih meneruskan jembatan keledainya, “Semua ini adalah Mengada-mengada (bentuk plural: Seiende). Kata-kata yang saya tulis ini juga Mengada, seperti halnya pikiran Anda dan Anda sendiri. Dan apakah Ada (Sein)? Jika kita mencakup segala entitas yang ada, apakah kita akan menemukan Ada? Menurut Heidegger tidak. Ada bukanlah kumpulan atau jumlah Mengada-mengada. ‘Ada’ jelas bersifat paling umum, tetapi bukan sekedar cakupan yang paling luas dari segala cakupan. “Keumuman’ Ada,” demikian Heidegger, “melampaui segala keumuman cakupan.” Ada menopang Mengada-mengada ada. Ada bersifat transendental. Kita terpukau pada Mengada-mengada dan melupakan Ada yang di belakangnya (atau di bawahnya, di atasnya, di sampingnya? Anda menentukan sendiri. Yang penting Ada itu tak tampak, sehingga mudah terlupakan).1

Kehidupan ini memang sulit betul untuk dipahami. Makin ke sini, makin bertambah persoalan yang menumpuk-numpuk. Di zaman Simbah masih remaja, Simbah tak pernah peduli akan hal-hal yang dapat dikatakan sebagai persoalan; mulai yang tingkatnya remeh-temeh, hingga yang dianggap banyak orang sulit untuk diselesaikan. Layaknya Bumi, kehidupan Simbah juga berputar, atau lebih dapat dibilang jungkir balik. Hal itu terjadi tatkala Simbah mulai iseng membaca. Di dalam buku yang dibaca Simbah, Simbah menemukan kalimat yang membikin hidupnya jungkir balik. Kiranya kalau tiada keliru, kalimatnya seperti ini, “Apakah kita telah tumbuh menjadi lebih moral….Sebagaimana diharapkan, kebodohan moral yang, sebagaimana diketahui, dianggap sebagai moralitas di Jerman, telah melakukan serangan dengan segala keganasan terhadap konsep saya “di seberang baik dan jahat”: saya bisa menceritakan beberapa kisah menarik tentang hal ini.”2

Moral adalah diksi yang masuk dalam katagori mistika bagi Simbah. Simbah tak habis pikir, kenapa hanya karena perkara moral, Simbah bisa berubah layaknya sekarang ini; selalu berpikir, tapi tahu apa yang dipikirkan dianggap tiada gunanya sama sekali bagi banyak orang. Bahkan, yang membikin Simbah makin bingung lagi ialah kala Simbah mengetahui seorang yang dikatakan menjembatani kaum rasionalis dengan kaum empiris saja, karya awalnya bukanlah tentang filsafat.3 Simbah lebih-lebih bertambah bingung lantaran kenapa filsafat berawal dari filsafat alam?4 Kenapa tidak dari yang lainnya?

Jembatan keledai, jungkir balik, hingga moral membikin mata Simbah jadi samar. Simbah tiap harinya makin merasa bingung dan selalu bertanya-tanya.

Berbarengan dengan Simbah mematikan rokoknya, Simbah bertanya entah kepada siapa, “Apakah semua ini berguna?” Suatu pertanyaan yang sejatinya, pertanyaan itu sudah Simbah tanyakan sejak sembilan tahun yang lalu namun tak jua temukan jawabnya.

**

Hari ini Simbah harus bangun pagi-pagi betul. Teh hangat dengan madu adalah minuman yang kali ini menemaninya di beranda rumah, sekalipun tambahan madu di dalam secangkir tehnya bukan hal yang seringkali Simbah lakukan. Hanya saat-saat tertentu saja Simbah mencampurkan madu dalam tehnya. Madu yang mempunyai banyak kasiat cukup untuk menambah tenaga, pikirnya. Tanaman yang diselimuti embun tipis, kicauan burung, dan surau di tengah sawah adalah lukisan alam yang kerap kali menemani pagi Simbah.

Waktu berjalan teramat cepat.5 Simbah sadar ia harus bergegas, tak boleh terlena sedikitpun. Lebih-lebih, Simbah harus sesegera mungkin sampai ke Desa Sukasari tepat pukul sembilan pagi. Kiranya, sudah cukup tempo Simbah tiada bersua dengan cucunya, Tomi dan Galang.

***

“Bu, kapan Simbah datang?” Galang merengek. Sang adik, Tomi, tetap asik bermain mobil-mobilan yang terbuat dari kayu.

“Sabar nak. Sebentar lagi Simbah juga datang.” Jawab enteng Ibunya.

Galang dan Tomi hari itu sudah bangun pagi-pagi sekali. Bahkan mereka bangun lebih dahulu sebelum ayam berkokok. Suatu hal yang wajar mengingat Galang maupun Tomi teramat gembira mendengar kabar Simbah akan datang untuk melepas rindu. Pikir mereka, kedatangan Simbah adalah suatu kesempatan besar bagi mereka untuk tidak berangkat mengaji di sore hari karena kalau Simbah datang, sudah barang tentu mereka setiap saat bersama-sama. Tak dapat dipungkiri, Galang dan Tomi rindu pula dengan dongeng-dongeng Simbah yang bertema tentang si Congkak Tuan Tanah yang gemar merampas tanah milik si Tani yang akhirnya membikin si Tani terlunta-lunta hidupnya6, pun tentang suatu negeri yang indah alamnya dan kaya budayanya.7

Keadaan yang membikin Galang tak karuan akhirnya terobati. Tepat pukul 08.57 Simbah tiba di rumahnya.

****

Sesadarnya dari berleha-leha dalam pelukan pagi, Simbah bergegas bersiap-siap menuju rumah cucunya di Desa Sukasari. Selain akan rindu dengan cucu-cucunya, Simbah sadar betul kalau dia melulu berdiam diri di saung akan membikin pikirannya semakin liar. Bermain bersama cucu setidak-tidaknya akan membuat pikirannya segar kembali, dan lebih dari itu, kala bersama cucu, sudah barang tentu Simbah tiada memikirkan perkara-perkara yang dianggap orang kebanyakan aneh.

Jalan setapak yang di apit sawah ialah jalan sesatu-satunya yang dilewati. Tiap kali melewati jalan itu, Simbah selalu murung. Bukan tanpa soal, saat melewati jalan setapak itu, Simbah selalu teringat kalau sawah-sawah yang mengapit jalan setapak itu bukanlah milik petani, melainkan milik si Congkak Tuan Tanah. Kalaulah Simbah bisa tak memikirkannya, pasti lantaran pembagian bagi hasil dari sawah antara si Congkak Tuan Tanah dengan si Tani ialah dibagi seadil-adilnya. Tetapi, hal itu belumlah sampai. Si Tani acap kali menerima bagian yang jauh dari kata adil, lebih-lebih ditambah dengan dipaksanya si Tani mengeluarkan keringat melebihi asupan makannya. Sebab itulah sampai hari ini, Simbah masih juga murung kalau-kalau melewati jalan setapak yang di apit sawah itu.

Perjalanan menuju rumah cucu cukup dengan berjalan kaki, selama-lamanya 2 jam perjalanan. Dari jalan setapak yang di apit persawahan yang berhektar-hektar, Simbah beristirahat di surau yang letaknya di penghujung jalan setapak. Dari kejauhan, rupa-rupanya surau tersebut sudah jarang dipergunakan. Surau di penghujung jalan setapak itu memang cukup aneh kalau dilihat dari letaknya. Beberapa tahun yang lampau, surau tersebut memanglah dikelilingi persawahan, akan tetapi, sawah-sawah yang di sekitarnya kini sudah diuruk. Kabar angin yang sampai di telinga Simbah, katanya, lahan di atas dan di sekeliling surau tersebut ingin dibikin pabrik. Pembangunannya yang belum juga diteruskan membikin sekitaran surau terlihat layaknya sabana.

“Sudah tanah dikuasai si Congkak Tuan Tanah yang keparat dan jauh dari adil wataknya. Kini penderitaan si Tani bertambah-tambah dengan lahan yang mau dibikin pabrik.” Simbah menghela nafas dan batinnya melanjutkan, “Kuasa betul negeri ini; kepingin jadi lumbung pangan tapi lahan lumbung pangan diobral-obral, kepingin jadi lumbung pangan tapi dibiarkan saja si Congkak Tuan Tanah hidup penuh kuasa.”

Perjalanan yang sudah ditempuh setengahnya membuat Simbah jatuh dalam kelelahan. Dahulu, kala usia Simbah masih menginjak 50an saat Galang dan Tomi belumlah lahir, untuk mencapai rumah anaknya Simbah tiada perlu bersitirahat di surau. Tapi apalah daya, waktu yang terus berjalan membuat usia Simbah bertambah pula. Setibanya di surau, Simbah beristirahat sejenak untuk merenggangkan otot-otot kakinya. Sesekali Simbah juga menyeka keringat yang membasahi rupanya. Dalam keadaan yang cukup letih, Simbah mengeluarkan arloji saku yang tiap saat dibawanya kala berpergian. Dari arloji sakunya, waktu sudah menunjukan pukul 07.56. Masih butuh kurang lebih 1 jam perjalanan untuk sampai ke Desa Sukasari. Selama satu jam itu pula, Simbah haruslah melewati satu desa lagi, Desa Trinil namanya.

Sesudah 15 menit beristirahat, Simbah kembali meneruskan langkahnya. Kali ini, agar tidaklah telat sampai, Simbah mempercepat langkahnya. Jalan yang cukup luas dan lenggang kini menggantikan jalan setapak yang di apit persawahan. Setapak demi setapak dilewati. Rasa letih sengaja dihilangkan dari benaknya. Betul saja, usaha Simbah untuk sampai tepat pada waktunya terlihat membuahkan hasil. Dalam hitungan berjalan seperti sedia kala dari surau untuk menuju Desa Trinil butuh waktu hampir 30 menit. Tapi kali ini, dengan berjalan sedikit lebih cepat, Simbah hanya butuh kiranya 20 menit untuk sampai ke Desa Trinil.

Menyusuri jalan desa cukuplah membuat hati Simbah tenang dan senang. Maklum saja, Simbah terbiasa hidup sendiri di saung, kekasih seumur hayatnya sudah lama meninggalkan Simbah ke kehidupan bagian lain. Senyum, kearifan, dan aura persaudaraan menyambutnya. Di lain sisi dalam pikirannya memanglah masih bertanya-tanya tentang semua hal yang dilihat Simbah di Desa Trinil dan di tempat lainnya. Simbah teringat tentang ilmuan tersohor itu yang mengatakan manusia ialah evolusi dari hewan sejenis kera8, dari hal itu, akhirnya membuat Simbah bertanya-tanya sampai detik ini,

“Apakah benar nenek moyang manusia itu ialah hewan sejenis kera? Kalau memang benar, apakah kera dahulu mempunyai sifat seperti ini? Tersenyum, berkebudayaan, dan mempunyai aura persaudaraan? Ah…. evolusi itu memang bukan perkara seratus atau dua ratus tahun.”

Setelah berjalan cukup lama, tibalah Simbah di rumah cucunya tepat pukul 08.57. Kedatangan Simbah langsung disambut riang oleh Galang dan diikuti Tomi yang sendari tadi menunggunya. Keletihan yang dirasa hilang kala Simbah melihat Galang dan Tomi teramat senang melihat kedatangannya.

*****

Beranda rumah, pekarangan yang hijau-hijau memanglah sedap dipandang mata. Tomi dengan manja meminta untuk dipangku Simbah, sedang Galang yang badannya cukup besar duduk di sebelah Simbah.

“Mbah, ayo segera dongengkan si Congkak Tuan Tanah.” Pinta Galang.

Simbah memanglah membuat kisah nyata si Congkak Tuan Tanah menjadi tema dongeng-dongeng yang acap kali diperdengarkan kepada cucu-cucunya. Bagi Simbah, mereka masih terlalu dini untuk mengetahui kalau-kalau dongeng si Congkak Tuan Tanah ialah kisah nyata. Sekalipun demikian, dari kisah nyata yang dibikin dongeng itu, Simbah berharap besar kalau-kalau nantinya Galang dan Tomi jika sudah cukup umur, mau turun ke bawah membantu para petani.

“Iya cu, Simbah pasti dongeng itu.” Simbah mengelus rambut Galang, lalu meneruskan, “Tapi tunggu barang sebentar ya, sampai teh yang dibuat ibu kalian sampai.”

Tanpa butuh waktu lama, teh yang dipinta Simbah datang. Ibunya Galang dan Tomi yang mana anak Simbah langsung masuk ke dalam rumah dengan menitipkan pesan ke Simbah.

“Pak, jangan terlalu serius ya ke anak-anak. Mereka masih terlalu dini.” Pinta Ibu.

Ibunya Galang dan Tomi sudah paham betul bagaimana keadaan bapaknya sekarang. Sekalipun Ibunya Galang dan Tomi senang akan kedatangan bapaknya, tapi sedikit kekhawatiran masih melanda.

“Galang, Tomi, kalian jangan membandel ya, lebih-lebih sampai merepotkan, Simbah.” Pinta Ibu ke Galang dan Tomi. Sewaktu itu juga Galang dan Tomi langsung mengangguk berbarengan.

“Ayo mbah, ceritaaa…” Tomi merengek manja.

Simbah hanya tersenyum tanda mengiyakan. Kemudian Simbah mulai bercerita.

“Suatu ketika di desa yang makmur, hiduplah keluarga petani. Di sana, sawah yang berundak-undak, sungai-sungai kecil yang hulunya di puncak gunung di mana segarnya air sampai di hilir-hilir sungai-sungai kecil tersebut. Hampir semua keluarga di sana berkerja sebagai petani, sisanya ada yang berternak, ada pula yang menjadi guru. Dalam kemakmuran tersebut, tenanglah hidup dari segala hidup rakyat desa.” Sejenak Simbah meminum tehnya. Galang dan Tomi terlihat serius mendengarkan. Simbah meneruskan, “Kemakmuran yang dirasakan selama bertahun-tahun lamanya mulai merasakan cobaan tatkala si Congkak Tuan Tanah pindah ke desa tersebut. Dengan alibi kemakmuran yang lebih makmur dari sebelumnya ialah sakti mandraguna si Congkak Tuan Tanah. Kebanyakan petani yang pendidikannya tidak lebih dari pendidikan bercocok-taman kerap kali diiming-imingi uang yang jumlahnya segepok-gepok. Lebih dari itu, uang yang segepok-gepok memanglah lambat laun membikin para petani mulai tergiur. Memang tidak semua petani tergiur. Namun si Congkak Tuan Tanah yang memang tidak adil sejak dalam pikiran dan jauh dari bijaksana, selalu mempunyai sakti mandraguna yang melebihi uang. Petani yang tidak mau menjual lahannya, diterpa cobaan dengan ditutupnya aliran sungai ke lahannya sehingga sudah tentu lahan petani tersebut dilanda kekeringan, sekalipun dimusim penghujan.”

Simbah menghela nafas. Batinnya merasa terisis ketika mendongengkan hal tersebut ke cucu-cucunya. Simbah tak habis pikir bagaimana jadinya kalau hal tersebut melanda Desa Sukasari juga. Kalaupun pada akhirnya si Congkak Tuan Tanah masuk berbondong-bondong ke Desa Sukasari, pastilah hal itu akan membuat rakyat Desa Sukasari hidupnya terlunta-lunta.

Simbah yang tak kuasa mendongengkan si Congkak Tuan Tanah akhirnya tiada meneruskan. Terlalu mengiris hati, pikirnya. Sekalipun hal itu membikin cucu-cucunya kecewa, mau tak mau Simbah menghentikan dongengannya juga. Lagi pula, niatan awal Simbah menengok cucu-cucunya tiada lebih agar menyenangkan hati, bukan menyakiti hati.

“Mbaaah, kok berhenti?” Tanya Galang dengan raut wajah cemberut.

“Dongengnya dilanjutkan lain waktu ya. Sekarang kita keliling desa saja.” Jawab Simbah

“Tapi……” Tomi cemberut juga. Sebelum melanjutkan ucapannya, Galang langsung memotong.

“Ayo mbaaah kita keliling desa. Sudah dik Tomi, gapapa dongengnya dilanjutkan lain waktu saja.”

“Yasudah, ayo mbah keliling desa.” Seru Tomi.

Sebenarnya Tomi ingin betul dongeng itu dilanjutkan. Tapi Tomi tiada berani memintanya; Simbah sudah tidak mau meneruskan, dan Galang pun mengiyakan. Kalau Tomi melawan, Tomi takut sama Galang yang badannya besar bagi Tomi. Bisa-bisa badan Tomi yang mungil ditiban badan Galang yang besarnya bukan main. Itulah sebabnya Tomi memilih mengikuti saja.

*****

Simbah, Galang, dan Tomi mulai berjalan-jalan menikmati suasana desa. Sebetulnya, hal ini sudahlah menjadi kebiasaan Galang dan Tomi sampai-sampai dalam suatu kali Galang dan Tomi sudah enggan menikmati suasana desa. Namun entah mengapa, kalau bersama Simbah, mereka berdua nyaman-nyaman saja, bahkan senang bukan kepalang.

“Mbah, kok si Tani itu kasian yah. Hidupnya jadi melarat betul. Kalau sudah begitu siapa yang hendak menolongnya, mbah?” Tanya Tomi ketika sedang berjalan-jalan menikmati desa yang masih terniang dongeng Simbah.

Simbah diam sejenak, kemudian menjawab, “Kita percaya Havelaar akan melindungi semua orang miskin dan tertindas yang ditemuinya, seandainya pun dia berjanji yang sebaliknya kepada “Tuhan yang Maha-kuasa.””9

Galang yang bingung langsung menyambar, “Havelaar itu siapa mbah?”

“Dia pahlawan yang datang dari negeri jauh di sana untuk rakyat Lebak.”Ujar Simbah.

“Wahhh, baik betul ya Havelaar itu, mbah.” Seru Tomi. Simbah hanya tersenyum.

Simbah, Galang, dan Tomi tiba di sungai desa yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Matahari sudah meninggi ketika mereka tiba di sana. Gemuruh air sungai dengan kicauan burung liar menjadi irama-irama merdu di telinga mereka. Sebuah suasana yang memang diinginkan Simbah.

“Mbah, kalau si Tani protes bisa gak ya? Semacam berkumpul beramai-ramai gitu seperti di teve-teve?” Tomi masih penasaran dengan dongeng Simbah.

“Kalau soal itu, Simbah belum tahu. Lagi pula itu kan dongeng.” Simbah tenang.

“Tapi…bisa kan mbah? Kan mbah yang buat dongeng itu.” Tomi mulai mencecar Simbah.

“Dikkkk kamu itu tidak sopan. Ingat, ibu berpesan agar kita tidak merepotkan, Simbah.” Hardik Galang ke Tomi.

“Sudah-sudah.” Simbah menenangkan Galang. Simbah meneruskan, “Ya memang bisa, kan Simbah yang buat dongengnya. Tapi Simbah harus berpikir lebih dahulu, soalnya menjadikan si Tani melakukan protes tidak mudah. Si Tani kan berbeda dengan pekerja di pabrik yang letaknya di kota-kota. Pun jika ada kesamaan, kesamaan itu ialah baik si Tani maupun pekerja di pabrik haruslah mendapatkan pendidikan.”

“Kan si Tani sudah berpendidikan bercocok-tanam. Kalau pekerja di pabrik memang haru belajar apa lagi, mbah?” Tomi makin penasaran. Galang hanya bermain-main di pinggiran sungai.

“Pendidikan untuk si Tani tidak hanya itu. Si Tani juga harus belajar hal lain pula untuk menyokong kehidupannya. Kalau untuk pekerja pabrik, ialah pendidikan bagi buruh menuju kesadaran politik kelas.”10

“Apalagi itu, mbaaah?” Galang menyambar. Tomi kelihatan bingung.

“Sudah-sudah, kalian nanti juga tahu kelak ketika umur kalian sudah mencukupi.” Simbah tersenyum.

Tak terasa mereka bermain di sungai sampai-sampai lupa untuk pulang. Saat itu, Simbah mengeluarkan arloji saku yang dibawanya. Nyatanya mereka sudah bermain berjam-jam. Menyadari Bumi di mana mereka berpijak sedang menjauhi Matahari, mereka pun langsung bergegas kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, baik Galang maupun Tomi hanya diam saja, kedua anak itu sudah terlalu keletihan lantaran bermain di sungai.

Langit yang kemerah-merahan menjadi lukisan alam selama diperjalanan. Suara jangkrik dan kodok mulai terdengar kala mereka lewat pematang sawah. Seolah-olah baik jangkrik dan kodok saling bersahut-sahut dengan jangkrik dan kodok lainnya. Kiranya selepas adzan magrib mereka tiba di rumah. Galang dan Tomi langsung segera membilas seluruh tubuhnya, sedang Simbah memilih istirahat di beranda rumah sambil menikmati langit kemerah-merahan yang masih nampak.

Catatan Kaki

  1. Hardiman, F. Budi, Heidegger dan Mistik Keseharian, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2016), Cet. 3, hlm. 53-54.
  2. Friedrich Nietzsche, Senjakala Berhala dan Anti-Krist, terj. Hartono Hadikusumo, (Yogyakarta: Narasi, 2016), hlm. 137.
  3. Karya awal Kant lebih terfokus pada ilmu pengetahuan ketimbang filsafat. Setelah gempa bumi Lisbon dia menulis teori tentang gempa bumi; dia membuat risalah tentang angin, esai pendek tentang pertanyaan apakah angin barat di Eropa basah karena ia melewati samudera Atlantik. Geografi fisik merupakan yang sangat dia nikmati. Selengkapnya silahkan baca, Bertrand Rusell, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko, et. al.,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016) Cet. IV, hlm. 921.
  4. Untuk lebih jelasnya tentang filsuf filsafat alam, silahkan baca, Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani Dari Thales Ke Aristoteles, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), Cet. XVIII.
  5. Saya belumlah mengerti dan belum pula cukup ilmu untuk mendefinisikan apa itu “cepat”. Apakah cepat harus yang sesegera mungkin dilakukan atau sesuatu yang bergerak tanpa disadari geraknya. Saya teringat dengan suatu buku, Kosmos judulnya. Di dalam buku itu dikatakan bahwa, “Jarak rata-rata antara bintang-bintang adalah beberapa tahun cahaya; kita ingat bahwa satu tahun cahaya kira-kira sama dengan sepuluh triliun kilometer.” Dan lainya dari buku yang sama, “Jarak Matahari ke pusat Galaksi Bimasakti adalah 30.000 tahun cahaya. Jarak dari galaksi kita ke galaksi spiral terdekat, yakni M31 yang juga berada di rasi Andromeda, adalah 2.000.000 tahun cahaya.” Suatu kali setelah membaca buku tersebut, saya mencoba menerka-nerka seberapa jauh kita (di Bumi) dengan luar angkasa. Namun, pada akhirnya, saya sadar ketika saya tiada belum dapat membayangkan seberapa “cepatnya” kecepatan cahaya, maka selama itu pula logika saya terangkat. Selengkapnya silahkan baca, Carl Sagan, Kosmos, terj. Ratna Satyaningsih, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2016), hlm. 244 dan 248.
  6. Terkait konflik yang berkenaan dengan agraria dan untuk memperkaya pustaka pembaca, baik kiranya kita membaca, Hendra Try Ardianto, et. al., #RembangMelawan Membongkar Fantasi Pertambangan Semen di Pegunungan Kendeng, (Yogyakarta: Literasi Press, 2015), LR. Wibowo, C. Woro Murdiati Runggandini, dan Subarudi, Konflik Sumber Daya Hutan dan Reforma Agraria Kapitalisme Mengepung Desa, (Yogyakarta: ALFAMEDIA, 2009), dan Herjuno, Rika Febriani, dan Sulistyoningsih, Tembakau, Negara, dan Keserakahan Modal Asing, (Jakarta: Indonesia Berdikari, 2012)
  7. Karena saya belumlah cukup mempunyai modal (baik secara materi maupun mental) untuk menikmati keindahan alam Indonesia dan kekayaan budaya Indonesia, maka dari itu salah satu cara agar tetap dapat mengetahui dan menikmatinya ialah dengan membaca. Satu buku yang saya rekomendasikan kepada pembaca sekalian tentang keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia adalah buku, Lawrence Blair dan Lorne Blair, Ring Of Fire Indonesia dalam Lingkaran Api, terj. Tyas Palar, (Jakarta: UFUK PRESS, 2012)
  8. Puluhan ribu tahun lalu, di masa yang masih gelap gulita untuk ingatan kita sekarang, ketika mungkin kepulauan Indonesia masih bersatu antara satu dengan lainnya, dan juga dengan Filipina dan benua Asia bahwa mungkin juga dengan Australia, menurut seorang ahli, hiduplah di sini, dekat Desa Trinil, makhluk setengah hewan setengah manusia, yang oleh ilmu dinamakan, Pithecantropus Erectus, manusia monyet. Di belahan Bumi lain seperti di Tiongkok Utara, Afrika Selatan, serta Eropa Selatan dan Tengah ditemukan juga makhluk semacam itu. (Tan Malaka, Islam dalam Madilog,(Bandung: SEGA ARSY, 2014), hlm. 29.) Untuk bacaan lebih lanjut tentang teori evolusi, Charles Darwin, The Origin of Species, terj. Sri Kusdiyantinah, et. al., (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003) dan Richard Leakey, Asal-Usul Manusia, terj. Andya Primanda dan Redaksi KPG, (Jakarta:KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) 2003).
  9. Dikutip dari, karya yang ‘membunuh’ kolonialisme menurut, Pramoedya Ananta Toer. Selengkapnya, Multatuli, Max Havelaar, terj. Ingrid Dwijani Nimpoeno, (Bandung: Qanita PT Mizam Pustaka, 2015), Cet. VI, hlm. 138.
  10. Tulisan tentang, Pendidikan bagi Buruh Menuju Kesadaran Politik Kelas ditulis oleh Rita Olivia Tambunan dapat dibaca selengkapnya di, Abu Mufakhir, et. al., Kebangkitan Gerakan Buruh Refleksi Era Reformasi, (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2014)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s