Rona Kuasa Ilusi

photo

Dia bermain dan lantas tertawa. Dia teralienasi dan kemudian terjerembab. Sudah itu? Sesudahnya terus berulang bagai siklus hingga dia putuskan untuk menikmatinya.

Di dalam kamp pengasiangan Aksara tak bebas untuk hidup. Tiap-tiap hal yang dilihat adalah semua hal yang dilihat kamp pengasingannya. Tiap-tiap rasa yang dirasakan adalah rasa yang dirasakan kamp pengasingannya. Kejenuhan yang melanda membuat Aksara merenung. Pada awalnya Aksara berpikir kebebasan adalah hak yang dimiliki tiap-tiap makhluk yang hidup. Tapi…bukankah Aksara hanya ilusi? Aksara sadar kalau dia hanyalah sebuah ilusi, tapi biar begitu adanya, hal itu tiada membikin Aksara terhenti. Kalau entitas yang sudah riil keberadaannya saja dapat memikirkan yang nyatanya tiada namun di-ada-kan dengan mengada-ada atau memikirkan entitas yang sudah tiada tapi di-ada-kan kembali, sudah barang tentu Aksara juga bisa melakukannya. Kendati Aksara hanya sebuah ilusi, yang perlu diingat ialah Aksara tiada lahir begitu saja. Sesuatu yang ada lahir dari ketiadaan. Sungguh pun Aksara berupa ilusi, Aksara masih dapat berpikir, setidak-tidaknya berpikir melalui pikiran sang penciptanya. Arkian, bagaimana renungan Aksara terkait kebebasan?

Segenap kebebasan adalah keterikatan pada kebebasan itu sendiri. Biar pun Aksara melakukan segala upaya untuk kebebasan, nyatanya kebebasan tak pernah absolut. Kalau ada batas, sudah tentu tidak ada kebebasan. Kalau bicara kebebasan di lingkungan yang berjalan untuk angan-angan keteraturan di mana norma dan undang-undang sebagai perisai, teranglah di tempat itu tidak ada kebebasan dan kalau pun ada, kebebasan menjadi paradoks. Sememangnya, tidak ada daerah yang tiada miliki norma pun undang-undang. Lantaran determinasinya serupa itu, alhasil Aksara sadar bahwasannya memang tidak ada kebebasan. Pada akhirnya, entitas-entitas yang lantang bicara kebebasan akan terhenti. Sekali pun upaya yang dilakukan sudah gegap-gempita, di penghujung jalan kesimpulan yang disimpulkan, yaitu bahwasanya kebebasan adalah utopis.

“Ihwal hidup memang rumit untuk dipecahkan.” Deru ombak terdengar begitu halusnya. Desau angin yang menyelip pada buih-buih ombak membikin suasana hati Aksara sekejap tenang. Dengan posisi terbaring, mata yang terpejam, tangan yang meremas butiran pasir nan basah, dan tarikan nafas mendalam yang dikeluarkan secara perlahan-lahan, Aksara melanjutkan, “Tapi ihwal hidup itulah yang pada akhirnya menjadi pertanda kalau aku hidup.” Senyum tipis terlihat di bibirnya dan tak lama Aksara terhanyut dalam kelelapan.

**

Gemercik di kolam ikan kepunyaan Simbah serupa nada-nada yang berirama. Dari kejauhan kicauan-kicauan burung saling bersahut-sahutan. Matahari mulai sayup. Sinarnya yang menyala terang menghangatkan Bumi berganti warna kejinggaan. Langit yang berawan membiaskan cahayanya ke antah-berantah yang akhirnya membikin langit lebih-lebih lagi sedap dipandang mata.

Kerumitan dalam hidup sudah terlewati. Bukan karena hidup Aksara sudah tiada lagi perkara, lagi pula yang namanya perkara hidup, sudah barang tentu datang begelombang silih berganti. Terlewati dalam hal ini lebih kepada meniadakan perkara dalam keheningan. Walau pun ada dan ketiadaan adalah hal rumit karena subjektifitas, tapi biarkanlah Aksara melakukan itu sesuai kehendaknya, lebih tepatnya kehendak penciptanya.

“Kalau kamu hidup di dunia nyata, kamu mau hidup yang seperti apa?” Tanya Sanskerta.

“Aku tiada punya keinginan hidup di dunia nyata.” Jawab Aksara dengan lesu.

“Kenapa demikian?” Sanskerta melanjutkan, “Bukankah menyenangkan hidup di dunia nyata?”

Aksara merenung. Langit jingga yang menghampar luas tidak menjadi jaminan bagi Aksara untuk menjawab pertanyaan Sanskerta dengan sebaik-baiknya. Namun, Aksara tetap berusaha menjawab, “Bagaimana aku sanggup untuk mempunyai keinginan hidup di dunia nyata, kalau yang menciptakanku saja memperlakukan aku tidak dengan selayaknya.”

“Maksudmu?” Sanskerta membingung.

“Manusia yang keji itu menciptakanku semata-mata hanya untuk keresahannya saja. Dia mengadakanku ketika dia resah. Keadaan itu membikin hidupku penuh dengan keresahan, yang indah-indah hanyalah alamnya saja. Selebihnya? Ihwal hidup yang teramat sulit.” Aksara membakar kretek dan dihisapnya dengan tergesa-gesa, hingga asap yang keluar dari mulut dan hidungnya mengepul-ngepul tak karuan. Aksara melanjutkan, “Kamu juga perlu tahu, manusia yang menciptakanku ini, bagi sebagian temannya dianggap aneh. Bagaimana tidak, segala hal yang sederhana dibuat rumit. Segala yang tiada penting dipikirkan malah dipikirkan. Lebih-lebih lagi, karena hal itu pula akhirnya dia ditinggalkan kekasihnya. Merana betul bukan?”

Simbah datang membawa pesanan kopi Aksara dan Sanskerta. Tanpa berlama-lama Simbah kembali ke dipannya yang terletak di bawah pohon kecapi.

“Kamu bisanya hanya misuh-misuh saja.” Hardiknya. Sanskerta meneruskan, “Sebagai ilusi, kita tiada punya kuasa. Kalau pun saja kita punya kuasa, kuasa kita adalah kuasa yang dikehendaki pencipta kita. Lagi pula, bagiku, kamu diciptakan memang untuk berbagi keresahan. Jangan nelangsa terus-menerus. Sebaiknya kamu berbangga diri lantaran dipercaya untuk berbagi keresahan.”

Aksara terdiam, Sanskerta pergi meninggalkannya. Langit jingga yang cerah sudah mulai menua, pertanda Bumi kian menjauhi Matahari. Cukup lama Aksara terdiam lantaran ucapan Sanskerta. Kreteknya dibiarkan begitu saja habis dihisap angin. Sudah itu, Aksara memilih pergi juga. Ditinggalkannya pula kopi yang baru seruput-duaruput diteguknya.

***

“Revolusi itu bukan tanpa sebab. Pun andaikata sebab-musababnya sudahlah diketahui dan dipahami, tapi kalaulah hati tidak teguh, maka revolusi itu akan mati sebelum lahir.”

Angin malam yang menusuk-nusuk hingga ke tulang sangatlah membikin badan menggigil. Lebih-lebih Kamp Mawar berada di dataran tinggi semakin membikin angin yang berhembus makin terasa menusuk. Sebelumnya Aksara memang memutuskan pergi ke Kamp Mawar selepas dari warung Simbah. Pikirnya, dia haruslah meluangkan waktunya guna menenangkan segala kerancuan yang melulu berkecambuk di pikirannya. Sekali pun selama menyendiri pelbagai persoalan tiada dapat ditemui resep solusinya, seyogyanya Akasara masih bisa merasa tenang.

“Kamu jangan terlalu bersicepat untuk revolusi karena revolusi itu bukan tanpa sebab. Pun andaikata sebab-musababnya sudahlah diketahui dan dipahami, tapi kalaulah hati tidak teguh, maka revolusi itu akan mati sebelum lahir.” Durjana meneruskan, “Dan yang perlu kamu ingat, revolusi itu bukanlah suatu mainan yang dapat seenaknya saja dikatakan. Perlu dasar yang teramat kuat sebelum mengatakan revolusi.”

“Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Lagi pula, persoalanku sudah teramat lama aku rasai. Pada akhirnya, sudah aku putuskan kalau-kalau hidupku kelak tiada boleh lagi dikendalikan oleh penciptaku. Dan sesatu-satunya cara agar keinginanku tercapai adalah dengan melakukan revolusi.” Aksara mencoba melakukan pembenaran.

“Sehebat-hebatnya ilusi tetaplah ilusi. Dan kita ini hanyalah ilusi. Walau pun persiapanmu sudah matang betul untuk melakukan revolusi, tapi seumpama manusia yang menciptakanmu ingin membunuhmu, maka lenyaplah kamu, Aksara.”

“Lantas, kita sebagai ilusi tiada mampu melakukan revolusi?” Tanya Aksara.

“Adakah kehebatan lain yang dipunya ilusi selain membikin senang penciptanya?” Aksara membingung dan sepintas terlihat ragu. Durjana melanjutkan, “Mahasiswa saja yang mau melakukan revolusi pendidikan butuh tempo yang tidak sebentar dan itu terjadi di dunia nyata. Lantas kamu yang hanyalah ilusi bisa-bisanya ingin melakukan revolusi. Yang nyata saja sulit, bagaimana yang fana.”

Kemerlap lampu kota terlihat dari Kamp Mawar. Kerlap-kerlipnya yang indah membuat tiap-tiap mata yang melihatnya betah untuk berlama-lama. Durjana sudah lenyap. Aksara yang hanyalah sebuah ilusi ternyata juga dapat membuat ilusi. Durjana, Simbah, dan Sanskerta itulah ilusi yang dibuat oleh Aksara. Aksara kian bingung. Aksara menggila. Didengarkannya Debu-debu Berterbangan kepunyaan Efek Rumah Kaca sebagai pertanda berakhirnya fase alienasi untuk kesekian kali yang dialaminya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s