Dari Gugusan Pulau di Timur Hingga Pedalaman Aceh di Barat

 

IMG_2349Bangunan-bangunan luluh-lantah. Serpihan-serpihannya berserakan hingga penuhi ruas jalan setapak. Mayat-mayat berceceran di mana-mana. Darah? Janganlah ditanya.

“Sewaktu sore di pulau nan indah itu kini tidak seperti sediakala; tidak ada lagi langit jingga keemasan, tidak ada lagi kepakan sekelompok burung yang melintas bermigrasi, tidak ada lagi keceriaan anak-anak kala bermain sampan di bibir dermaga, dan tentunya tidak ada pula kebahagiaan.” Tubuhnya dibiarkan pasrah dikursi malas. Ronanya memucat.

“Lalu?” Aksara penasaran. Perhatiannya penuh dengan saksama.

Ditariknya nafas dalam-dalam dan di keluarkannya secara perlahan. Simbah melanjutkan ceritanya, “Pulau yang indah dengan pasir putih, perbukitan hijau, dan rempah-rempah yang melimpah, kini habis tak berbekas. Semua tergantikan oleh kebengisan kekuasaan, tergantikan oleh hasrat kekayaan yang disebabkan kegilaan akan rempah-rempah. Di waktu persitiwa itu terjadi, nyawa bagai tiada maknanya. Prajurit-prajurit yang digadang-gadang sebagai pelindung yang kelak ketika mati nanti di kuburkan di makam pahlawan adalah pelaku utamanya. Berkompi-kompi mereka berlayar dari Batavia ke pulau tersebut. Tugasnya hanya satu: memberanguskan segala manusia yang hidup di sana. Sungguh tak dikira, mereka melaksanakan tugas itu dengan kegigihan. Kedamaian dan kemakmuran rakyat di pulau itu dirampas dalam sekejap. Menurut catatan, ada sekitar 15.000 rakyat yang tinggal di sana. Keberutungan hanya menghinggapi sekitar 1.000 orang yang melarikan diri. Diperkirakan 800-an menjadi tawanan dan dibawa ke Batavia. Sisanya? Sisanya dipaksa menjalani kehidupan yang abadi sebelum waktunya.” Mata Simbah penuh tatapan kosong yang sendari tadi tak berkedip melihat lampu petromax yang tergantung di ruang tengah gubuk kepunyaannya. Aksara yang mendengarkan cerita Simbah hanya bisa menelan ludah dan keringat yang deras mengalir sampai-sampai membasahi baju yang dikenakan. Dengan suara terbata-bata dan air mata yang sekejap membasahi rautnya, Simbah melanjutkan, “Bulan Mei tahun 1621, aku tidak akan pernah melupakannya.”

**

Pagi tiba dengan kesedihan. Matahari mulai menggantikan Bulan untuk menyinari Bumi. Malam yang berat telah berlalu. Cerita Simbah, pulau nan indah, dan air mata disimpannya baik-baik di dalam hati dan pikirannya.

Suasana pagi di beranda rumah mempunyai kesan tersendiri. Lebih-lebih ditambah dengan hijaunya pekarangan. Suasana tersebut dinikmati Aksara dengan tenang. Baginya, pagi yang cerah cukup untuk menjadi penawar kesedihan dari cerita Simbah, sekali pun Aksara sadar cerita Simbah akan selalu dikenang.

Suara pagar bambu berderit cukup kencang. Aksara tak habis pikir, pagi yang tiada cukup digambarkan dengan kata-kata ini sedikit kehilangan pesonanya akibat deritan pagar bambu. Sontak ia langsung menoleh ke arah pagar. Dilihatnya Delima yang berjalan perlahan dengan senyumannya. Di tangan kanannya, terlihat bungkusan yang entah apa isinya.

“Kamu datang pagi-pagi betul.” Selama menjalin hubungan dengan Delima, baru kali ini Delima datang di saat pagi belum beranjak. Aksara cukup dibuat bingung karenanya.

Belumlah juga terjawab kebingungan Aksara, Delima melantas mengecup kening Aksara. Lantas berbisik, “Aku mau mengambil cangkir dulu.” Aksara makin dibuat terheran dengan tingkah laku Delima. Pikirnya, hal ini jarang sekali terjadi.

Tanpa butuh waktu lama Delima sudah duduk di sebelah Aksara dengan dua cangkir di tangannya.

“Pagimu tidak lengkap tanpa kopi.” Ujar Delima sambil menuangkan kopi yang dibawanya.

“Pagi telah membuat aku terbuai hinggga aku lupa membuat kopi.” Aksara meneruskan, “Ngomong-ngomong, kamu tumben datang pagi-pagi betul?” Aksara berusaha mendapatkan jawaban dari kebingungannya.

“Aku rindu kamu.” Gumamnya lirih.

Mendengar jawaban itu Aksara terdiam. Dalam diam pikirannya melayang ke hari-hari sebelumnya. Beberapa terakhir ini Aksara disibukkan dengan kegiatan barunya, yaitu membaca dan menulis. Di usia yang sudah mulai menginjak pertengahan dekade kedua dalam hidupnya, Aksara baru mulai berliterasi. Hal itu bukan tanpa sebab, rezim yang berkuasa puluhan tahun cukup berhasil mendoktrin Aksara dengan produk kebudayaan yang dibuatnya, hingga Aksara memutuskan untuk mendobrak doktrin tersebut dengan berliterasi. Butuh keberanian untuk melakukannya, karena di rezim yang tak mengenal peri kemanusiaan, bila mana ada yang melakukan sesuatu tetapi tidak dikehendaki rezim, salah-salah bisa ditubuh subversif.

“Kamu datang tanpa permisi, lantas pergi tanpa pamit. Menganggap hal itu biasa dan sepele. Tapi sadarkah kamu, kalau hal sekecil apa pun bisa merubah segalanya?” Keluh Delima.

Aksara makin terpojokkan dengan kata-kata itu. Diam dan membisu. Tatapan Aksara tak bermakna. Sirna sudah pagi dengan segala pesonanya.

“Maaf.” Ujarnya dengan suara parau. Wajahnya tertunduk.

Satu kata, ya..hanya satu kata yang langsung membuat Delima terhentak. Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan perselisihan-perselisihan mulai yang remeh temeh hingga teramat berat untuk ditemukan solusinya, baru kali ini kiranya Aksara meminta maaf. Suasana hati Delima diselimuti rasa haru, Delima tak menyangka Aksara mengeluarkan kata itu. Delima tersedu sedan.

Isak tangisnya sampai di telinga Aksara. Di dekapnya Delima dengan perlahan.

“Menangislah. Marahlah. Aku sadar aku bersalah kepadamu, sayangku.” Bisik Aksara.

Delima tak berbicara apa pun. Dia hanya membiarkan tubuhnya jatuh dipelukan Aksara. Bahasa tubuh baginya sudah cukup untuk memberitahu kalau-kalau dia sudah memaafkan Aksara.

“Literasi sungguh ajaib. Tanpa butuh waktu lama literasi dapat mengubah seseorang. Aku sayang kamu Aksara, aku lebih menyayangimu dari sebelum-sebelumnya karena kamu saat ini berliterasi. Ketika berliterasi, kamu sudah berusaha untuk adil sejak dalam pikiran dan hatimu.” Delima membatin. Makin erat ia memeluk Aksara.

Dekapan yang cukup lama mulai dilepas secara perlahan. Mata Delima lebam, senyum lepas terpancar dari ronanya. Terlihat jelas rasa haru dan kerinduan dapat mengalahkan emosi yang memang tak ada gunanya.

Matahari telah meninggi. Terik sinarnya menembus melalui celah-celah dedaunan hingga mendarat tepat di kening Delima. Angin yang datang silih berganti meninggalkan derunya tepat di hati.

“Aksaraku…” Bisik Delima dengan manja.

Delima yang sendari tadi di pangkuan Aksara membikin Aksara mudah untuk menoleh ke arahnya. Dikecup keningnya, sebelum ia menimpali bisiknya.

“Kamu suka kopi Aceh Gayo yang aku bawa?” Tanya Delima.

Aksara tersenyum, lantas menjawab pertanyaan Delima dengan pertanyaan baru, “Apa pernah aku protes dari semua yang pernah kamu sajikan kepadaku?”

Rona Delima memerah. Semestinya, Delima sudah menyadari kalau-kalau respon seperti itulah yang akan diberikan kekasihnya. Pikirnya, sejak awal bertemu hingga menjadi kekasih, tiap kali menyajikan sesuatu untuk Aksara, Aksara memang belumlah pernah protes, lebih-lebih protes soal rasa enak atau tidak enak.

“Kamu tahu gak genosida yang pernah terjadi di Aceh?” Entah mengapa setiba-tibanya Delima menanyakan hal itu.

“Maksudmu yang pernah terjadi di awal abad ke-20 dan di pertengahan abad ke-20 itu?”

“Iya” Delima menerukan, “Kamu tahu?”

“Aku belum tahu banyak tentang itu, hanya tahu kapan peristiwa itu terjadi.” Aksara yang keheranan dengan Delima yang tanpa ba tanpa bu menanyakan hal itu meminta penjelasan, “Kenapa tiba-tiba tanya hal itu, sayangku?”

Delima beranjak dari pangkuan Aksara. Diambilnya cangkir yang berisikan kopi Aceh Gayo dan disuapinya Aksara dengan perlahan sesaat sebelum dia menceritakan peristiwa tersebut.

“Senada dengan Bali, Aceh juga termasuk wilayah yang sulit sekali dikuasi oleh Belanda. Sependek ingatanku, Aceh termasuk wilayah terakhir yang dikuasai Belanda. Rakyat Aceh gigih betul dalam melakukan perlawanan terhadap tentara londo. Tapi, semua itu harus dibayar dengan sangat mahal. Teramat mahal.”

Aksara mendengarkan dengan saksama. Delima terlihat antusias menceritakan persitiwa tersebut, sekali pun, dia tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang mendalam akibat peristiwa yang terjadi di Aceh.

“Rakyat Aceh melawan tentara londo dengan pekakas seadanya. Berlindung pun hanya di bilik bambu yang bahkan ledeng saja masih jauh lebih baik.” Delima menarik nafas dalam-dalam lantas mengambil cangkir kopinya. Terlihat gugup, tapi Delima berusaha meneruskan, “Pada tanggal 14 Juni 1904, terjadi genosida di wilayah Kuto Reh. Sedikitnya, tercatat ada 2.900 lebih orang yang gugur dalam petistiwa naas itu. Sekurang-kurangnya terdapat 1.773 laki-laki dan kurang lebih 1.149 perempuan yang menjadi korban. Angka tersebut termasuk meliputi anak-anak dan usia lanjut tetapi belum termasuk korban yang berguguran dari daerah lainnya. Bahkan, fakta yang lebih menyesakkan hati telah dituturkan oleh J.C.J. Kempees. Dalam laporannya yang berjudul “De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden (1904)” J.C.J Kempees menyebutkan bahwa agresi tentara Belanda yang dilakukan di pedalaman Aceh, setidak-tidaknya telah memakan korban hingga 4.000 orang.”

Delima meneteskan air matanya. Ia tak kuasa dengan apa yang pernah terjadi di kota asalnya: Aceh. Kota serambi Mekkah ini memiliki genangan darah yang tak terhitung berapa liternya. Aksara memeluknya, mencoba menenangkan, Delima.

“Kalau kamu sudah tak kuasa, sebaiknya dilanjutkan lain waktu saja.” Aksara meneruskan, “Aku memahami betul kesedihanmu. Pun aku juga merasakan kesedihan yang serupa dengan kesedihanmu.”

Dengan terisak-isak, Delima menolak saran Aksara agar melanjutkannya dilain waktu, “Enggak. Kamu harus tahu peristiwa yang lain.” Delima diam sejenak, menatap mata Aksara dan melanjutkan penuturannya, “Ini tentang sejarah bangsa kita, sayangku. Kita tidak boleh melupakannya, lebih-lebih sengaja membiarkan sejarah bangsa kita sendiri terkubur tak berbekas, tak bermakna.”

Mendengar hal tersebut, Aksara tertegun, ia menelan ludahnya sendiri. Kekagumannya terhadap Delima makin berlipat-lipat ganda. Delima seorang perempuan yang ditemuinya beberapa bulan lalu di kedai kopi dengan blazer hijau tua yang menutupi baju putihnya dan dengan rok hitam selutut, yang pada saat awal bertemu enggan menengok sejarah kini bermetamorfosis menjadi perempuan yang melek sejarah, lebih dari itu, Delima kini menjadi perempuan seutuhnya dengan sadar betapa pentingnya literasi.

“Kalau begitu, mari lanjutkan. Aku mau tahu sejarah bangsa kita.” Pinta Aksara berbarengan dengan kedua tangannya yang menyeka air mata di pipi Delima. Delima menganggung manja tanda mengiyakan permintaan kekasihnya.

“Selain di Kuto Reh, perlakuan bak binatang buas yang ditunjukan tentara londo juga terjadi di desa-desa yang masuk wilayah Gayo. Perilaku yang tiada sama sekali menunjukan sisi humanis tersebut terjadi di periode 1940-an. Pada saat itu, seperti yang sudah aku kemukakan sebelumnya, rakyat Aceh berjuang dengan gigih melawan tentara londo agar wilayahnya tidak jatuh ke tangan Belanda. Hal itu juga berlaku terhadap rakyat Aceh yang tinggal di wilayah Gayo: mereka juga dengan gigih mempertahankan wilayahnya.” Delima mengambil nafas sejenak. Aksara terlihat serius memperhatikan tiap-tiap tutur kata yang diucapkan Delima. Delima meneruskan, “Sekurang-kurangnya ada 500 orang lebih rakyat Aceh yang tinggal di desa-desa di wilayah Gayo yang gugur lantaran kebiadaban tentara londo. Sedikit-dikitnya ada 313 laki-laki, 189 perempuan, dan kurang lebih 50 anak-anak yang menjadi korban. Angka tersebut belum ditambah dengan desa lainnya.”

Delima tersedu sedan untuk kesekian kalinya. Mengingat sejarah kelam bukanlah kemauannya. Tetapi, pikirnya, kalau kita tiadalah mau mengingat sejarah bangsa kita sendiri baik yang kelam maupun yang gegap gempita, lantas mau dibawa ke mana bangsa ini? Sedikit-dikitnya penghormatan untuk para pejuang adalah dengan mengingat segala perjuangan yang pernah dilakukannya.

Peristiwa yang dituturkan Delima membikin Aksara terdiam bagai patung. Aksara tak habis pikir penjajahan yang dilakukan manusia terhadap manusia lain dapat sekejam itu. Lebih-lebih, dari persitiwa yang dikisahkan oleh kekasihnya itu, kini menjadi dasar kesekian bagi Aksara betapa ia dan generasinya harus bersyukur dan memaknai bahwa hidup merdeka yang dirasakan sekarang ini bukanlah perjuangannya sehari-dua hari, atau perjuangan dengan sogok sana-sogok sini seperti kebanyakkan anggota dewan maupun pejabat lainnya saat ini.

Sore menjelang saat peritiwa tak mengenakkan itu selesai dituturkan oleh Delima. Dibiarkannya Delima jatuh tertelungkup dalam dekapan Aksara. Langit mulai berubah warna jingga keemasan. Di kejauahan terlihat sekelompok burung berterbangan yang barang kali hendak bermigrasi. Diambil dan langsung dibakarnya kretek yang sendari pagi ditaruh di atas meja. Asap mengepul-ngepul hingga menghalangi pandangan Aksara. Dari cerita Simbah hingga penututuran kisah yang disampaikan Delima, akhirnya Aksara membikin kesimpulan bahwasannya semua itu dapat diketahui hanya dengan membaca. Aksara membatin, “Sama seperti halnya menulis, membaca juga membutuhkan keberanian; keberanian melawan stigma kebiasaan lama yang menganggap membaca adalah kegiatan membosan dan membuang waktu, keberanian melawan ketakutan terhadap diri sendiri, dan keberanian untuk mengetahui kebenaran.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s